Namun, ketenangan mental berbicara di pertengahan set. Boy Arnes dkk kembali mengambil alih kendali permainan dan unggul 20-17. Meski dalam tekanan tinggi, skuad muda Garuda Jaya tetap konsisten menyerang, namun dominasi LavAni di poin-poin kritis tak terbendung. Set kedua berakhir dengan skor 25-20 untuk LavAni.
Set ketiga pelatih LavAni, David Lee menginstruksikan anak asuhnya untuk tetap bermain menekan sejak awal set. LavAni langsung memimpin 10-7 sebelum menjauh menjadi 16-9. Melihat keunggulan yang cukup jauh, David Lee melakukan rotasi pemain dengan memasukkan Jasen Kilanta untuk menggantikan Dio Zulfikri.
Rotasi ini tidak mengurangi ketajaman LavAni. Hingga akhir set, dominasi mereka tetap terjaga dengan skor 24-17 sebelum akhirnya sebuah serangan mematikan menutup laga dengan skor 25-17.
Kemenangan ini menjadi modal penting bagi LavAni dalam perburuan tiket menuju Grand Final. Kematangan strategi David Lee dan kedalaman skuad menjadi kunci utama. Di sisi lain, Jakarta Garuda Jaya harus segera mengevaluasi efektivitas serangan mereka jika ingin tetap bersaing di sisa laga Final Four.
