Sebagian mereka menanyakan identitas wartawan Munir. Namun karena terus dipojokkan, mendapatkan perlakuan tidak mengenakkan hingga dipiting lehernya sehingga Munir tidak dapat menunjukkan identitas yang tersimpan di dalam tasnya.
“Saya mau nunjukin id card pers jika saya adalah wartawan dari media Warta Kota, tapi mereka terus mendorong saya dan dari belakang piting leher saya,” tutur Munir menyayangkan hal itu.
Munir menyebutkan, pitingan ke leher berhasil lepas setelah dia berupaya membela diri dengan melakukan perlawanan. Bahkan dia juga nyaris dikeroyok oleh sejumlah oknum tersebut.
Atas kejadian ini, Munir bakal melaporkan tindak kekerasan yang menimpa dirinya ke Mapolres Metro Jakarta Timur. Sebab, menurut dia, persoalan ini merupakan bentuk intimidasi terhadap insan pers yang dilindungi Undang-Undang Pers.
Sejurus kejadian itu, sejumlah wartawan yang tergabung dalam Kelompok Kerja Wartawan Jakarta Timur dan atau disebut Pena Timur mengecam keras tindakan intimidasi terhadap jurnalis tersebut.
