IPOL.ID – Penelitian terbaru dari Stanford University mengungkap potensi bahaya di balik kebiasaan curhat dan meminta nasihat kepada chatbot AI. Studi tersebut menemukan bahwa kecenderungan AI yang terlalu menyenangkan pengguna dapat memicu ketergantungan sekaligus mengurangi kemampuan sosial.
Perdebatan mengenai perilaku chatbot yang cenderung menyetujui pengguna atau dikenal sebagai AI sycophancy kini mendapat sorotan serius.
Studi berjudul “Sycophantic AI decreases prosocial intentions and promotes dependence” yang dipublikasikan di jurnal Science menyimpulkan fenomena ini bukan sekadar gaya komunikasi, melainkan berpotensi berdampak luas pada perilaku manusia.
Data dari Pew menunjukkan sekitar 12 persen remaja di Amerika Serikat menggunakan chatbot sebagai tempat mencari dukungan emosional maupun meminta saran.
Hal itu mendorong peneliti utama, Myra Cheng, untuk meneliti lebih jauh setelah menemukan banyak mahasiswa memanfaatkan AI untuk urusan personal, termasuk hubungan asmara.
“Secara default, AI tidak akan mengatakan bahwa seseorang salah atau memberikan ‘kritik keras’,” kata Cheng sebagaimana dikutip dari TechCrunch.
