“Banyak fakultas belum menyentuh dimensi batiniah keilmuan. Padahal itu bagian penting dari tradisi Islam,” ujarnya.
Ia menambahkan bahwa pendidikan Islam harus responsif terhadap isu-isu global, seperti:
- perkembangan teknologi dan kecerdasan buatan,
- krisis kemanusiaan,
- kesetaraan warga negara,
- hingga relasi antaragama.
Dalam konteks ini, pesantren dinilai memiliki potensi besar sebagai basis pengembangan paradigma keilmuan baru, asalkan mampu bertransformasi tanpa kehilangan akar tradisinya.
Diskusi yang dilaksanakan selama dua hari ini diharapkan melahirkan reformulasi visi dan misi tidak lagi sekadar dokumen normatif, melainkan harus menjadi peta jalan transformasi sehingga mampu melahirkan generasi yang tidak hanya religius, tetapi juga adaptif, kritis, dan siap menghadapi kompleksitas zaman. (ahmad)
