IPOL.ID – Pendidikan vokasi menjadi fokus utama dalam upaya merumuskan ulang arah besar pendidikan Islam pasca terbentuknya Ditjen Pesantren. Kementerian Agama menggelar pembahasan naskah akademik reformulasi visi dan misi Direktorat Jenderal Pendidikan Islam pada 15–16 April 2026 di Jakarta, dengan penekanan pada penguatan pendidikan kejuruan sebagai jawaban atas kebutuhan masa depan.
Wakil Menteri Agama (Wamenag) Romo Muhammad Syafi’i menegaskan, reformasi pendidikan Islam tidak bisa lagi berhenti pada aspek normatif. Menurutnya, perubahan struktur kelembagaan harus diikuti dengan redefinisi peran pendidikan Islam secara lebih konkret.
Ia menyoroti pentingnya penguatan pendidikan vokasi sebagai jawaban atas kebutuhan nasional. Di tengah agenda besar pemerintah seperti industrialisasi, hilirisasi, hingga swasembada pangan, pendidikan Islam dituntut mampu mencetak lulusan yang tidak hanya religius, tetapi juga memiliki keterampilan praktis.
“Peluang kerja terbuka sangat besar, tetapi kurikulum kita belum sepenuhnya menjawab kebutuhan itu,” ujarnya. Karena itu, pemerintah mendorong pengembangan madrasah kejuruan, program vokasi di perguruan tinggi keagamaan Islam, serta kolaborasi lintas kementerian.
