Situasi tersebut membuat banyak warga kehilangan keberanian untuk berkembang, sementara anak-anak putus sekolah akhirnya menjadi pengangguran.
“Perputaran ekonomi yang lambat akhirnya masyarakat itu tidak punya keberanian apa-apa. Anak putus sekolah terus jadi pengangguran, ujung-ujungnya begal,” katanya.
Nurafni juga menyoroti banyaknya pelaku kriminal yang masih berusia muda. Ia menilai kondisi itu tidak boleh terus terjadi di Jakarta.
“Kita lihat yang ditangkap-tangkap itu sebagian besar anak tanggungan, masih muda-muda. Itu yang tidak boleh terjadi untuk masyarakat Jakarta,” ucapnya.
Karena itu, ia meminta Dinas Tenaga Kerja DKI lebih serius menjalankan tugas dalam mengurangi angka pengangguran. Menurut dia, pelatihan kerja harus disesuaikan dengan perkembangan zaman dan kebutuhan tiap wilayah.
“Pelatihan itu menyesuaikan perkembangan zaman. Jangan terlalu berpatokan dengan kementerian sampai akhirnya pelatihan jadi baku dan itu-itu saja,” tegasnya.
Nurafni mengusulkan agar model pelatihan di setiap wilayah bisa berbeda sesuai kebutuhan masyarakat setempat. Ia mencontohkan pelatihan di Jakarta Barat tidak harus sama dengan Jakarta Timur.
