“Kami ingin siswa memiliki kesadaran bahwa tidak semua yang viral harus dibeli, tidak semua review bersifat objektif, dan tidak semua tren harus diikuti. Kemampuan mengontrol diri dalam konsumsi digital merupakan bagian penting dari kecerdasan komunikasi di era media baru,” tambahnya.
Kegiatan berlangsung dalam suasana yang aktif dan komunikatif. Para siswa terlihat antusias mengikuti sesi diskusi dan berbagi pengalaman pribadi terkait kebiasaan belanja online yang dipengaruhi media sosial. Beberapa siswa mengaku pernah membeli produk fashion, skincare, hingga aksesoris hanya karena mengikuti tren yang sedang viral di TikTok maupun Instagram.
Tim PKM kemudian mengajak peserta untuk menganalisis bagaimana strategi persuasi digital bekerja melalui visualisasi produk, penggunaan influencer, komentar positif, testimoni berbayar, hingga permainan algoritma media sosial yang terus menampilkan produk serupa berdasarkan data perilaku pengguna.
Kepala SMK Puspita Husada, Drs. M. Sunarsum, menyampaikan apresiasi dan dukungannya terhadap kegiatan PKM yang dinilai sangat relevan dengan kondisi remaja saat ini. Menurutnya, siswa SMK merupakan kelompok yang sangat dekat dengan media sosial sehingga membutuhkan edukasi literasi digital secara berkelanjutan.
