“Kalau di toko enggak ada yang jual, maka di grup komunitas itu ada forum jual belinya, beli di teman-teman kita yang memang sudah bosan mengoleksi atau seller besar. Nah, yang seller ini juga kolektor, tapi dia berani ambil langsung dari luar terus dijual lagi,” ungkapnya.
Jabbad menjelaskan, jual beli lewat media sosial boleh dibilang unik. Karena menurutnya, kebanyakan dijual dengan sistem seperti lelang terbuka, artinya, siapa cepat dia dapatkan mainan itu.
“Jadi kalau saya jual online ya siapa cepat dia dapat. Ada juga yang sudah saling percaya, kadang barang langsung dibayar tapi minta dikirimnya nanti sekalian kalau ada barang yang lain yang akan dibeli. Ada juga yang sekalian ngeborong,” bebernya.
Pria yang bekerja di salah satu perusahaan swasta di kawasan Kemang, Jakarta Selatan itu mengaku serius dalam mengoleksi sejumlah mainan. Karena mainan itu meski pun dibeli bekas/second tetapi harus dirawat dan disayangi.
Selain action figure, ada juga beberapa miniatur dia miliki seperti Elizabeth Bathory yang setelah ditelusuri ternyata memiliki nilai historis dalam sejarah dunia dan dijual dengan harga fantastis.
