Dia menjelaskan, ilmu pelatihan didapat dari Bogasari juga pasti akan dipakai dalam mengembangkan produk TEFA di sekolah. Terutama saat momen tertentu seperti Ramadan lalu, dengan pendampingan guru, para siswa berhasil produksi sekitar 700 toples aneka kue kering, di antaranya, nastar, cokocip, lidah kucing, dan cokelat caramel. Penjualan juga dilakukan sendiri oleh para siswa ke masyarakat.
“Alhamdulillah berhasil dapat omset sekitar Rp35 juta. Tapi bukan itu yang utama, karena tujuannya lebih pada melatih jiwa dan kemampuan wirausaha para siswa. Karena tidak semua mampu melanjutkan kuliah, tapi juga bisa buka usaha,” harap Agus.
Dia menambahkan, dengan bimbingan Bogasari ke depan pihak sekolah ingin inovasi produk TEFA Kuliner “Adiwangsa”, yang artinya menciptakan beberapa produk inovatif lainnya untuk menarik minat konsumen di sekolah. Misalnya Donat Prasmanan, diproduksi dan dijual siswa langsung di sekolah dalam kondisi fresh.
Bahkan para siswa yang membeli diberikan kebebasan untuk memilih dan mengoleskan berbagai macam jenis topping yang telah disediakan sendiri.
