“Pertamina menggunakan formula harga rata-rata satu bulan sebelumnya. Jadi, minyak yang kita proses dan distribusikan saat ini sebenarnya adalah hasil pembelian dengan harga rata-rata bulan lalu, yang posisinya saat itu memang masih relatif tinggi, di atas USD 80 per barel. Ada jeda waktu dalam proses pengadaan hingga produksi,” urai Iriawan secara rinci.
Ia sekaligus menepis anggapan bahwa Pertamina lamban merespons dinamika pasar global. Menurutnya, formula evaluasi berkala yang diterapkan korporasi justru menjadi instrumen pelindung konsumen agar tidak terombang-ambing oleh volatilitas harga harian yang ekstrem.
“Coba bayangkan kalau mekanismenya berubah setiap hari. Ketika harga minyak dunia tiba-tiba melonjak, Pertamina tidak langsung menaikkan harga hari itu juga. Ini demi melindungi konsumen dari ketakutan, antrean panjang, atau bahkan risiko kelangkaan di lapangan. Jadi, formula rata-rata ini adalah instrumen pengaman, baik saat harga naik maupun turun,” tegasnya, seraya meminta masyarakat untuk sedikit bersabar.

