Pementasan tersebut, kata dia, menjadi keempat kalinya rutin dilakukan Sandiwara Sunda Miss Tjitjih 1928 pada tahun 2026 diselenggarakan atas kerja sama Dinas Kebudayaan Provinsi DKI Jakarta melalui Unit Pengelola Gedung Pertunjukan Seni Budaya (UP GPSB) dengan Perkumpulan Kesenian Miss Tjitjih 1928.
“Pertunjukan dipadati oleh 252 penonton, sesuai kapasitas kursi tersedia di gedung kesenian,” ungkap Rinaldi.
“Sebagaimana diketahui, kisah mengenai sosok Nyai Dasimah telah lama dikenal dalam dunia sastra dan seni pertunjukan di Indonesia. Sandiwara Sunda Miss Tjitjih 1928 bertajuk ‘Nyai Dasimah’ kali ini, syarat nilai sejarah dan refleksi sosial, berhasil mengajak kita untuk menginterpretasikan kembali mengenai kehidupan perempuan pribumi di Batavia pada masa kolonial Hindia Belanda,” terangnya.
Nyai Dasimah dan Kisahnya
Diceritakan, hiduplah seorang perempuan pribumi asal Bogor, Jawa Barat, bernama Dasimah. Sosok perempuan cantik, cerdas, dan berhati lembut. Dasimah hidup pada masa kolonialisme Hindia Belanda, ketika Batavia menjadi pusat pertemuan berbagai budaya dan kepentingan.

