Namun, sebagai perempuan pribumi yang hidup pada ketimpangan sosial dan kekuasaan kolonial, dia harus menghadapi batasan keadaan zaman.
Dasimah bertemu dengan Tuan Edward, pria Inggris terpandang yang tinggal di Batavia. Edward memperlakukan Dasimah dengan penuh kasih, berbeda dengan kebanyakan orang. Kehidupan Dasimah bersama Edward perlahan membawanya ke hidup berkecukupan.
Namun dibalik kemewahan itu, tersimpan dilema, statusnya sebagai “Nyai” membuatnya tetap dipandang sebelah mata oleh lingkungan.
Dia harus menghadapi stigma sosial dan berbagai tekanan yang membatasinya di tengah masyarakat kolonial. Hingga hadirlah Samiun pada kehidupan Dasimah, lelaki yang pandai memanfaatkan kelemahan ‘Sang Nyai’ di tengah kehidupan penuh aturan dan tekanan sosial tersebut.
Samiun dengan rayuan dan intrik asmaranya mampu mempengaruhi Dasimah. Samiun memberikan gambaran kebahagian yang berbeda untuk Dasimah yang akhirnya mempertanyakan kehidupannya selama ini. Dia pun memutuskan meninggalkan Tuan Edward.

