Keputusan Dasimah meninggalkan Tuan Edward menjadi awal perjalanan hidup penuh dengan konflik. Dasimah mengira perjalanannya bersama Samiun akan membawa kebebasan, namun ternyata justru menyeretnya pada hubungan yang dipenuhi kepentingan dan manipulasi. Dia pun tersadar bahwa tak semua cinta diwarnai ketulusan dan berakhir dengan kebahagiaan.
Dasimah pun menghadapi kenyataan pahit atas pilhannya. Dia harus berjuang mempertahankan kehidupannya dari harga diri, mencari kebenaran, dan melawan keadaan yang terus menekan dirinya sebagai perempuan di masa kolonial. Dia pun berada pada kehidupan yang berakhir tragis.
Animo Masyarakat
Kepala Unit Pengelola Gedung Pertunjukan Seni Budaya (UP GPSB), Rinaldi mengatakan, seni pertunjukan saat ini sedang mengalami tren peningkatan yang sangat signifikan. Hal itu terlihat dari antusiasme masyarakat terhadap pementasan rutin Sandiwara Sunda Miss Tjitjih 1928.
Setiap pementasan disambut dengan animo tinggi masyarakat. Tercatat, pada pertunjukan Sandiwara Sunda Miss Tjitjih 1928 bertajuk “Nyai Dasimah” edisi spesial semarak HUT ke-499 Kota Jakarta, terdapat 15.261 interaksi pada laman pemesanan e-tiket pertunjukan yang dikelola oleh Unit Pengelola Gedung Pertunjukan Seni Budaya (UP GPSB) Dinas Kebudayaan Provinsi DKI Jakarta.

