Animo tinggi ini menjadi indikator bahwa seni pertunjukan tradisional masih memiliki
tempat penting di hati masyarakat urban. Selain sebagai hiburan, pementasan ini juga berperan sebagai media edukasi dan pelestarian budaya Sunda, sekaligus memperkuat identitas multikultural Jakarta.
“Kami apresiasi minat penonton cukup tinggi pada pertunjukan ini, tak semua dapat diakomodir. Direncanakan sepanjang tahun 2026, terdapat 10 kali pertunjukan Sandiwara Sunda Miss Tjitjih 1928 yang bersifat gratis,” jelas Rinaldi. (Joesvicar Iqbal)

