Kecurigaan mahasiswa terbukti saat masuk ke dalam GIK, di mana forum tersebut dinilai bukan sebagai ruang dialog yang setara.
Mereka menganggap acara tersebut lebih banyak diisi pemaparan mengenai capaian pemerintah dibandingkan diskusi yang membuka ruang pertukaran gagasan secara seimbang.
“Maka, di tengah segala teriakan, bentrokan, dan barang yang terlempar ke tengah panggung dari berbagai arah dan pihak, yang seharusnya disoroti hanyalah satu: rasa muak serta ketidakpercayaan kami terhadap pemerintah yang terlebih dahulu menindas rakyatnya dengan kekerasan,” bebernya.
Dalam pernyataan sikapnya, mahasiswa menyoroti sejumlah isu yang menjadi sumber keresahan publik. Mulai dari korupsi hingga penangkapan.
“Tidak bolehkah kami sedikit menunjukkan kekecewaan, ketidakpercayaan, serta kemarahan kami? Kekerasan yang terus berulang dan kian membuat kami muak adalah bukti bahwa logika oknum tak lagi dapat dibenarkan,” tegasnya.
Mahasiswa menilai Indonesia sedang mengalami kebobrokan struktural akibat kebijakan rezim yang tidak berpihak pada rakyat kecil.

