Per Mei 2026, defisit anggaran negara membengkak hingga Rp180,4 triliun, yang berdampak langsung pada pemotongan dana pendidikan, kesehatan, dan perlindungan sosial.
Kemudian, Pertamina menaikkan harga Pertamax sebesar 32 persen menjadi Rp16.250 per liter. Kenaikan ini memicu migrasi konsumen ke Pertalite dan memperberat beban subsidi energi negara.
“Ketika subsidi energi kian membengkak, tekanan fiskal pun sulit terelakkan. Lingkaran setan semacam ini yang dapat mengakselerasi bangkrutnya negara,” cetusnya.
Kondisi ekonomi ini diperparah oleh badai Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) massal. Sepanjang tahun 2025, tercatat 88.519 orang kehilangan pekerjaan, atau naik 13,5 persen dari tahun sebelumnya.
Menurut mereka, situasi tersebut membuat banyak warga berada dalam kondisi sulit, sementara pemerintah dianggap belum menghadirkan solusi yang menjawab persoalan mendasar.
“Kondisi ini semakin memburuk. Semua sektor industri sedang dalam tekanan. Mereka yang bekerja pun kini bukan lagi menabung untuk bermimpi, melainkan hanya untuk memperpanjang nafas sehari-hari,” katanya. (far)

