“Kalau semua orang berprestasi menolak amanah untuk mengabdi karena sudah nyaman, apa jadinya masa depan negara kita?” tuturnya.
Nadiem menegaskan keputusannya menjadi menteri sama sekali bukan demi memburu materi, mengingat ia sudah mapan secara finansial jauh sebelum berada di birokrasi.
“Justru karena saya sudah dianugerahi Allah kemapanan finansial, rasa tanggung jawab saya kepada negara menjadi lebih besar,” ujar dia.
Banyak hal yang harus dipertaruhkan saat memutuskan bergabung ke kabinet, mulai dari kondisi keuangan, reputasi pribadi, hingga ketenangan keluarganya.
“Itulah mengapa saya mempertaruhkan segalanya, keuangan saya, reputasi saya, ketenangan hati saya dan keluarga saya, untuk mengabdi kepada negara,” ungkapnya.
Menurutnya, peluang mencari penghasilan akan selalu terbuka dalam hidupnya. Namun, kesempatan memperbaiki kualitas pendidikan untuk generasi mendatang dinilai sebagai momentum langka yang belum tentu datang dua kali.
“Kesempatan mencari uang akan selalu ada dalam hidup saya. Tetapi kesempatan melakukan lompatan besar untuk generasi penerus bangsa hanya akan datang sekali dalam hidup,” jelasnya.
