Ia pun berharap anak-anaknya suatu hari nanti memahami alasan dirinya memilih jalur pengabdian meski harus menghadapi risiko besar.
“Saya harap di kemudian hari anak-anak saya akan menonton pleidoi ini dan meyakini bahwa ayahnya tidak pernah menyesal mengabdi kepada negara,” katanya.
Namun ia mengaku kecewa karena merasa pengabdiannya berujung pada hukuman dan tekanan hukum. Ia menyinggung penghargaan Bintang Mahaputera Adipradana yang pernah diterimanya dari negara.
“Bayangkan betapa hancurnya hati saya. Setelah mendapatkan penghormatan tertinggi negara, Bintang Mahaputera Adipradana, ‘hadiah’ yang saya dapatkan dari negara adalah jeruji besi,” ujar Nadiem.
Nadiem juga menyoroti tuntutan perampasan aset yang disebut berasal dari hasil kerja kerasnya membangun perusahaan selama bertahun-tahun.
Usaha yang dirintisnya telah membuka jutaan lapangan pekerjaan bagi masyarakat Indonesia.
“‘Hadiah’ yang saya dapatkan adalah perampasan hasil usaha saya selama 10 tahun yang menciptakan jutaan lapangan pekerjaan di Indonesia,” katanya.
