“Jadi, kami hari ini melakukan kunjungan lapangan ke perumahan Triwidadi di Jogja. Tadi kami melihat ada 172 rumah. Rumahnya memang ukurannya kecil, tetapi yang menarik adalah lokasinya belum memiliki akses transportasi yang memadai,” ujar Harris.
Berdasarkan pemantauannya, keterbatasan akses transportasi menjadi tantangan tersendiri bagi penghuni perumahan subsidi. Sebab, sebagian besar pekerja yang beraktivitas di Kota Yogyakarta harus menempuh perjalanan hingga sekitar 45 menit dan bergantung pada kendaraan pribadi untuk mobilitas sehari-hari.
“Kehadiran FLPP melalui SMF membuktikan bahwa negara hadir untuk membantu masyarakat memiliki rumah. Namun yang perlu dicatat, rumah yang dibangun harus benar-benar layak, termasuk dari sisi aksesibilitasnya, sehingga benar-benar ditempati dan tidak berisiko menjadi kawasan dengan tingkat hunian yang rendah,” tegasnya.
Walaupun begitu, Harris menilai kondisi di Bantul masih relatif baik dibanding sejumlah lokasi yang pernah dikunjunginya sebelumnya, di mana akses jalan menuju kawasan perumahan bahkan belum tersedia secara memadai. Oleh karena itu, ia mendorong agar pembangunan rumah subsidi ke depan semakin terintegrasi dengan perencanaan infrastruktur dasar dan konektivitas transportasi.

