Guna meminimalisasi potensi risiko di masa depan, investasi pada integritas infrastruktur harus ditempatkan pada skala prioritas tertinggi. Pengelolaan seluruh aset penunjang harus berbasis pada keandalan teknologi mutakhir, mulai dari fasilitas penerimaan di dermaga, tangki penyimpanan, jaringan perpipaan, hingga sistem distribusi. Dengan modernisasi ini, setiap potensi kegagalan operasional diharapkan dapat dideteksi dan dimitigasi jauh lebih dini sebelum meluas.
Selain infrastruktur statis, fokus perhatian yang sama besar juga diarahkan pada aspek distribusi darat. Iriawan meminta jajaran regional untuk memperketat pengawasan terhadap kelaikan armada mobil tangki, disiplin HSSE para awak, sistem pengisian melalui loading gantry, hingga akurasi volume dan kualitas produk. Ia mengingatkan bahwa rantai distribusi yang aman dan andal harus terjaga sempurna tanpa cacat, sejak produk keluar dari terminal hingga masuk ke tangki kendaraan konsumen.
Di era modern ini, langkah penguatan operasional tersebut juga wajib diakselerasi melalui digitalisasi dan otomasi proses di lapangan. Penerapan teknologi pintar pada sistem loading gantry dan monitoring distribusi dinilai menjadi jawaban mutakhir untuk mendongkrak efisiensi. Lebih dari itu, sistem digital ini diharapkan mampu menekan potensi human error yang kerap menjadi pemicu insiden operasional, sekaligus membangun operational resilience menghadapi dinamika alam dan lonjakan permintaan pasar.
