“Keributan paling besar terjadi di hari terakhir. Intinya ada pelatih yang tidak menerima keputusan pertandingan karena merasa anak didiknya dicurangi,” katanya.
Selain kericuhan, pelaksanaan kategori festival juga menjadi sorotan. Roy menyebut pertandingan pada kategori tersebut sempat dihentikan setelah muncul protes dari peserta. Namun, seluruh peserta akhirnya tetap menerima medali emas.
“Kategori festival akhirnya tidak dilanjutkan pertandingannya, tetapi semua pesertanya mendapat medali emas. Pesertanya berasal dari berbagai provinsi,” ujarnya.
Persoalan lain yang dipermasalahkan peserta adalah perbedaan tulisan pada medali dan sertifikat yang dibagikan panitia. Pada medali tercantum tulisan “Piala Presiden”, sedangkan pada sertifikat hanya tertulis “Indonesia Open Championship”.
“Peserta mempertanyakan kenapa tulisan di medali Piala Presiden, tetapi di sertifikat hanya Indonesia Open Championship. Seharusnya kalau memang satu kejuaraan, penulisannya sama,” katanya.
Roy menilai berbagai persoalan tersebut menjadi bahan evaluasi bagi penyelenggara. Menurutnya, Lampung sebagai tuan rumah seharusnya mampu menghadirkan pelaksanaan kejuaraan nasional yang lebih profesional.

