Di lokasi menunjukkan pemandangan memprihatinkan. Besi-besi kerangka penyangga atap melintir tak beraturan, saling menumpuk dan menjulang miring seolah tak sanggup lagi menahan beban yang pernah dipikulnya.
Genting-genting tanah liat pecah berantakan berserakan di lantai, bercampur dengan puing plafon yang usang dan lapuk. Kemudian, potongan kayu jendela, hingga tumpukan buku pelajaran dan alat tulis yang kini tertutup debu tebal berwarna kelabu.
Meja dan kursi belajar yang dulu menjadi tempat siswa menimba ilmu masih tersusun rapi di posisinya, namun kini terkubur sebagian oleh reruntuhan atap yang jatuh menimpanya.
Di salah satu potongan dinding masih tegak berdiri, selembar jadwal piket kelas sudah pudar warnanya masih menempel erat. Lembaran kertas itu menjadi saksi bisu aktivitas belajar mengajar yang tiba-tiba terputus, seolah baru kemarin siswa mencatat nama mereka untuk bertugas menjaga kebersihan kelas.
Diketahui saat peristiwa itu terjadi, empat ruang kelas beserta satu Unit Kesehatan Sekolah (UKS) ambruk seketika. Kini, seluruh bangunan utama telah dikosongkan. Tak terdengar lagi riuh suara tawa gembira anak-anak atau sorak guru yang sedang mengajar di sana.
