6. Surat Al-An’am Ayat 151: Larangan Mendekati Perbuatan Keji
Selain mengecam, Alquran secara tegas juga melarang umat manusia untuk mendekati segala bentuk perbuatan keji, termasuk penyimpangan seksual seperti LGBT, baik yang dilakukan secara terbuka maupun secara tersembunyi. Allah SWT berfirman:
وَلَا تَقْرَبُوا الْفَوَاحِشَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ
Artinya: “Janganlah pula kamu mendekati perbuatan keji, baik yang terlihat maupun yang tersembunyi.” (QS. Al-An’am: 151)
Syekh Ahmad bin Musthafa al-Maraghi menerangkan bahwa ayat di atas tidak hanya melarang melakukan perbuatan keji, namun juga melarang mendekatinya.
Larangan tersebut mencakup segala bentuk ucapan maupun perbuatan yang sangat buruk, termasuk zina dan berbagai bentuk penyimpangan seksual, seperti perilaku LGBT.
أَيْ: وَلَا تَقْرَبُوا مَا عَظُمَ قُبْحُهُ مِنَ الْأَقْوَالِ وَالْأَفْعَالِ، كَالزِّنَا وَقَذْفِ الْمُحْصَنَاتِ، سَوَاءٌ مِنْهُ مَا فُعِلَ عَلَنًا وَمَا فُعِلَ سِرًّا
“Maksudnya, janganlah kalian mendekati perbuatan-perbuatan yang sangat buruk dan keji, baik berupa ucapan maupun perbuatan, seperti zina dan menuduh perempuan-perempuan yang terjaga kehormatannya (muhshanāt) dengan tuduhan zina, baik perbuatan dilakukan secara terang-terangan maupun secara sembunyi-sembunyi.” (Tafsir al-Maraghi [Mesir: Syirkah Musthofa al-Babi al-Halabi], vol. 8, h. 65)
Dari sini seharusnya dipahami, bahwa mendekati perbuatan keji seperti zina dan penyimpangan perilaku seksual yang masuk dalam kategori LGBT secara tegas hukumnya adalah haram, apalagi melakukan perbuatan keji tersebut.
Demikianlah enam ayat Alquran beserta penjelasan para ulama tafsir mengenai keharaman perilaku LGBT. Secara umum, Alquran menggambarkan perbuatan tersebut sebagai fāḥisyah (perbuatan keji), tindakan yang melampaui batas, menyimpang dari fitrah manusia, serta termasuk perbuatan yang diharamkan oleh Allah.
Walhasil, seorang muslim dituntut untuk menjaga fitrahnya, menyalurkan naluri dan syahwat melalui cara yang dibenarkan syariat, serta menjauhi segala bentuk perbuatan yang dapat menyeret kepada penyimpangan dan kemaksiatan. Wallāhu a’lam bis ṣhawāb. ***

