Menurut Heri, kebebasan dalam menyelenggarakan kegiatan hiburan maupun promosi produk tetap memiliki batas. Kebebasan tersebut, kata dia, tidak boleh mengorbankan penghormatan terhadap agama dan keyakinan masyarakat.
“Jangan karena alasan kreativitas marketing kemudian semua hal dianggap boleh. Ada batas etika, moral dan hukum yang harus dihormati. Apalagi yang digunakan adalah ayat suci Al-Qur’ an dan kemudian dikaitkan dengan minuman keras. Ini sangat sensitif bagi umat Islam,” tuturnya.
Lebih lanjut, Heri juga meminta pihak penyelenggara maupun pemilik booth memberikan penjelasan secara terbuka mengenai siapa yang menggagas dan menjalankan aktivitas tersebut.
Sebelumnya, The Sounds Project telah menyatakan mengecam kejadian tersebut dan menyebut aktivitas di booth Newport berada di luar arahan maupun persetujuan mereka. Pihak penyelenggara juga menyatakan telah menegur sponsor terkait serta melakukan identifikasi terhadap pihak-pihak yang terlibat.
Sementara itu, Newport juga telah menyampaikan permintaan maaf dan menyatakan aktivitas tersebut bukan bagian dari program promosi resmi mereka.
