Selain itu, ada gerakan literisasi keuangan buat ibu-ibu, disahkannya UU TPKS untuk korban kekerasan, dan menjamurnya startup-health-tech fokus ke kesehatan wanita.
Lisda menghimbau wanita Indonesia untuk fokus ke-5 masalah tersebut. “Dari sisi ekonomi, bagaimana wanita Indonesia tidak naik kelas melalui UMKM, kerja remote dan skill AI.”
Dikatakan, akses dokter di daerah masih minim untuk mengatasi masalah anemia dan kesehatan mental.
Masalah keamanan dipertanyakan Lisda, seperti KDRT, pelecehan online, UU TPKS, sudah jalan apa belum?
Untuk pendidikan dan karir, wanita Indonesia sebaiknya harus bisa jadi ‘leader’ jangan mentok jadi staf. Berupaya melawan stigma kodrat standar pernikahan dini dan standar kecantikan.
“Masalah pokoknya muter di 3 hal yakni uang, badan dan suara. Kalau ke 3 hal itu beres, wanita Indonesia bisa jauh lebih produktif,” ungkap Lisda. (bam)
