Menurut Roro, posisi tersebut menjadi gambaran daya saing produk makanan dan minuman (food and beverage/F&B) Indonesia di pasar regional.
Ia menilai negara-negara ASEAN yang berada di atas Indonesia dapat dijadikan pembanding untuk melihat strategi yang dapat diterapkan guna meningkatkan ekspor produk makanan olahan.
Meski masih berada di posisi keempat, Indonesia tetap masuk dalam lima besar negara ASEAN dengan nilai ekspor makanan olahan terbesar. Pemerintah melihat masih terdapat peluang yang luas untuk memperbesar penetrasi produk F&B Indonesia ke pasar internasional.
Roro menekankan peningkatan ekspor harus diikuti dengan penguatan kualitas produk. Pasalnya, setiap negara memiliki standar dan persyaratan berbeda yang harus dipenuhi sebelum produk dapat masuk ke pasar mereka.
“Kalau kita berbicara mengenai ekspor, bagaimana kita bisa memperkuat kualitas dari produk F&B yang dapat kita tawarkan untuk bisa penetrasi ke pasar internasional. Karena setiap negara punya standarnya masing-masing,” katanya.
