Oleh: Kurdianto,
Mahasiswa Doktor Pascasarjana IPB University, Program Studi Ilmu Pengelolaan Sumberdaya Alam dan Lingkungan
IPOL.ID – Minyak dan gas bumi (migas) kerap diposisikan sebagai energi masa lalu yaitu sumber daya fosil yang dituding sebagai biang krisis iklim dan kerusakan lingkungan.
Di sisi lain, migas masih menjadi tulang punggung perekonomian nasional, sumber penerimaan negara, sekaligus penopang kebutuhan energi masyarakat. Di sinilah paradoks itu hadir: bagaimana mungkin kita berbicara tentang migas berkelanjutan, sementara sifat dasarnya adalah tak terbarukan?
Namun, menafikan migas secara serta-merta bukanlah solusi yang realistis. Bagi negara berkembang seperti Indonesia, migas masih memegang peran strategis dalam transisi menuju energi bersih. Yang dibutuhkan bukanlah penolakan, melainkan transformasi cara pandang dan tata kelola migas agar selaras dengan prinsip keberlanjutan.
Migas Belum Pergi, Tapi Harus Berubah
Fakta menunjukkan bahwa hingga hari ini, sektor industri, transportasi, dan rumah tangga masih sangat bergantung pada migas. Transisi energi tidak dapat terjadi dalam satu malam. Energi terbarukan memang masa depan, tetapi migas adalah jembatan menuju masa depan tersebut.
