IPOL.ID- Modus penipuan digital terus berevolusi dengan cara semakin canggih dilakukan orang tidak bertanggung jawab. Mulai dari deepfake AI yang memalsukan wajah dan suara, fake Base Transceiver Station (BTS) yang mengirimkan pesan palsu secara massal dan tampak seolah berasal dari institusi resmi, hingga malware berbahaya mampu menyusup dan menyadap perangkat pengguna.
Lebih lanjut, pertanyaannya apakah sistem pertahanan saat ini telah cukup adaptif untuk menghadapi ancaman yang terus berkembang? Dalam menjawab tantangan tersebut, VIDA sebagai penyedia solusi digital identity dan fraud prevention terdepan di Indonesia menegaskan bahwa penipuan digital kini tidak lagi bersifat sporadis, melainkan semakin terorganisir dan terindustrialisasi.
Dalam podcast Kasisolusi bertajuk “80 persen Penipuan OTP Naik Saat Musim THR!? Ini Modus Phishing yang Bikin Rekening Ludes!!”, VIDA mengungkapkan bahwa praktik penipuan telah berevolusi dari aksi individu menjadi jaringan terstruktur.
“Penipuan selalu beradaptasi. Setiap kali sistem pertahanan diperkuat, pelaku menguji ulang, menyesuaikan teknik, dan kembali dengan metode lebih kompleks dan sistematis. Mereka memanfaatkan celah keamanan, kelemahan literasi digital masyarakat, serta momentum tertentu untuk melancarkan aksinya,” ungkap Founder & Group CEO VIDA, Niki Luhur, Minggu (8/3/2026).
