IPOL.ID – Ketegangan geopolitik di Timur Tengah mulai berdampak langsung ke pasar energi global. Harga minyak mentah melonjak hingga menembus 100 dolar AS per barel setelah Iran memberlakukan blokade de facto di Selat Hormuz, jalur vital distribusi minyak dunia.
Kebijakan ini muncul sebagai respons atas eskalasi konflik Iran dengan Amerika Serikat dan Israel. Di tengah situasi tersebut, arus pelayaran internasional tersendat. Ribuan kapal dilaporkan tertahan di sekitar selat sempit yang menjadi jalur utama ekspor minyak dunia itu.
Laporan dari jurnal pelayaran Lloyd’s List mengungkapkan Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) kini mengoperasikan sistem “gerbang tol” militer untuk mengendalikan lalu lintas maritim.
Berdasarkan surat resmi Pemerintah Iran kepada 176 anggota Organisasi Maritim Internasional (IMO), Teheran menetapkan kriteria ketat bagi kapal yang ingin melintas. Hanya kapal dari negara “non-musuh” yang mendapatkan izin transit.
“Kapal-kapal yang tidak bermusuhan, termasuk milik atau berhubungan dengan Negara lain, dapat –asalkan mereka tidak ikut serta atau mendukung tindakan agresi terhadap Iran dan sepenuhnya mematuhi peraturan keselamatan dan keamanan yang dinyatakan –mendapatkan manfaat dari perjalanan yang aman melalui Selat Hormuz melalui koordinasi dengan pihak berwenang Iran yang berwenang,” bunyi pernyataan resmi Pemerintah Iran dalam surat tersebut, dikutip dari Al Jazeera, Jumat (27/3).
