IPOL.ID – Mochamad Aleh S Hermawan bercerita, setiap pasca panen, karung-karung berisi green bean Kopi Arabika Java Preanger tidak pernah sempat bertahan lama di gudang penyimpanan. Stok kopi tersebut selalu habis akibat tingginya permintaan pasar.
“Petik, olah, jual, begitu terus setiap selesai panen,” ujar Ketua Masyarakat Perlindungan Indikasi Geografis (MPIG) Kopi Arabika Java Preanger tersebut, menggambarkan cepatnya perputaran kopi hasil panen para petani.
Saat menerima kunjungan tim Direktorat Jenderal Kekayaan Intelektual (DJKI) dalam kegiatan pengawasan dan pemantauan produk indikasi geografis terdaftar di kebun kopi MPIG Kopi Arabika Java Preanger, Pangalengan, pada 25 Juni 2026, Aleh mengenang bahwa kondisi saat ini jauh berbeda dibanding belasan tahun lalu.
Menurutnya, jika kini hasil panen yang telah diolah kerap langsung terjual, saat itu kopi dari berbagai sentra di Jawa Barat belum memiliki identitas bersama yang mampu memperkuat reputasinya di pasar. Meski memiliki kualitas yang baik, kopi-kopi tersebut masih berjalan sendiri-sendiri sehingga belum memiliki posisi yang sekuat sejumlah kopi indikasi geografis yang lebih dahulu dikenal masyarakat.

