IPOL.ID- Lonjakan harga minyak dunia akibat memanasnya tensi geopolitik di Timur Tengah kembali mengguncang pasar keuangan domestik. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dan nilai tukar rupiah sama-sama tertekan. Meski demikian, pemerintah memastikan kondisi tersebut belum mengancam stabilitas Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN).
Pada penutupan perdagangan Jumat (24/7/2026), IHSG anjlok 1,88 persen ke level 6.196,43. Pelemahan terjadi di seluruh sektor seiring meningkatnya kekhawatiran investor terhadap dampak kenaikan harga energi terhadap perekonomian global.
Tekanan juga dialami rupiah. Mata uang Garuda ditutup melemah 27 poin atau 0,15 persen ke level Rp17.963 per dolar AS.
Sentimen negatif dipicu melonjaknya harga minyak mentah dunia yang kembali menembus level psikologis 100 dolar AS per barel. Ini menjadi kali pertama sejak 22 Mei 2026 harga minyak Brent kembali berada di atas level tersebut.
Mengutip Reuters, harga minyak mentah Brent melonjak 6,62 dolar AS atau 7 persen menjadi 100,69 dolar AS per barel. Sementara minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) naik 5,36 dolar AS atau 6,2 persen menjadi 92,19 dolar AS per barel.
