Ipol.idIpol.id
Aa
  • Home
  • News
  • Nasional
    • Jabodetabek
    • Jakarta Raya
    • Nusantara
  • Internasional
  • Politik
  • Hukum
  • Kriminal
  • Ekonomi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Si Ipol
  • Opini
  • More
    • Video
    • Gaya hidup
    • Sosok
    • Tekno/Science
    • Galeri
    • Indeks Berita
Reading: Raja Sriwijaya Muslim, Layakkah Masa Pra-Islam Disebut Era Hindu-Buddha?
Share
Ipol.idIpol.id
Aa
Cari berita disini...
  • Home
  • News
  • Nasional
    • Jabodetabek
    • Jakarta Raya
    • Nusantara
  • Internasional
  • Politik
  • Hukum
  • Kriminal
  • Ekonomi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Si Ipol
  • Opini
  • More
    • Video
    • Gaya hidup
    • Sosok
    • Tekno/Science
    • Galeri
    • Indeks Berita
Follow US
  • Redaksi
  • Pedoman Pemberitaan Media Siber
  • Standar Perlindungan Profesi Wartawan IPOL.ID
  • Privacy Policy
  • Disclaimer
Ipol.id > Galeri > Raja Sriwijaya Muslim, Layakkah Masa Pra-Islam Disebut Era Hindu-Buddha?
Galeri

Raja Sriwijaya Muslim, Layakkah Masa Pra-Islam Disebut Era Hindu-Buddha?

Timur
Timur Published 04 Dec 2022, 11:49
Share
13 Min Read
Borobudur Word Press Bagasdwipram
Arca Budha di candi Borobudur yang digali dan dipugar kembali atas inisiatif penjajah Belanda. Foto: Word Press Bagasdwipram
SHARE

IPOL.ID – Mungkin kita menyangka, bahwa benturan peradaban (clash of civilization) itu hanya  terjadi di pusat negeri kaum muslimin, yakni Timur Tengah. Padahal, wilayah muslim yang juga mengalami benturan hebat itu adalah negeri kita yang notabene jauh dari pusat peradaban Islam. Menariknya, perubahan arah peradaban di Nusantara, ternyata memang banyak dipengaruhi oleh agama. Yang pertama adalah proses Islamisasi, dan yang kedua adalah nativisasi.

Nativisasi adalah gerakan untuk mengecilkan peran Islam pada sebuah bangsa dengan cara membangkitkan budaya atau sejarah keagungan pra-Islam dan secara licik, menggambarkan Islam sebagai sesuatu yang asing dan merusak kebudayaan lama. Nativisasi dilakukan oleh Prancis di Mesir dan Inggris di India, lalu diujicoba juga di Jawa pertama kali oleh Thomas Stanford Raffles.

Borobudur, digali kembali oleh Raffles, perwakilan Inggris ketika menjajah Indonesia. Jadi, apa kepentingan Raffles – yang bukan seorang Buddha – menggali bangunan yang sudah lama tertimbun abu vulkanik dan diabaikan masyarakat?

12345678910Next Page
GN

Follow Akun Google News Ipol.id

Jangan sampai kamu ketinggalan update berita menarik dari kami
TAGGED: Arab Saudi, bani umayah, budha, candi, candi borobudur, era hindu, galeri, hindu, islam masuk nusantara, kerajaan, khilafah, Nusantara, praislam, sejarah islam, sri indrawarman, sriwijaya
Share this Article
Facebook Twitter Whatsapp Whatsapp LinkedIn Telegram Copy Link
Previous Article IMG 20221204 WA0014 Marullah Dicopot dari Sekda, Ketum Forkabi: Anak Betawi Kecewa Sama Heru
Next Article IMG 20221204 WA0015 Semeru Muntahkan Awan Panas Sejauh Tujuh Kilometer, PVMG Tetapkan Status Siaga

TERPOPULER

TERPOPULER
Jay Idzes
HeadlineOpini

Jay Idzes Cedera usai Sassuolo Hajar Raksasa AC Milan 2-0 di Serie A Liga Italia

Headline
Tembus Blokade AS, Supertanker Iran Pengangkut Minyak Rp3,8 Triliun Masuki Perairan Indonesia
03 May 2026, 19:15
HeadlineNews
Viral! Akun Instagram Ahmad Dhani Hilang dari Jagat Maya
04 May 2026, 09:28
HeadlineJabodetabek
Polda Metro Jaya Bongkar Judi Online Bermodus Live Konten Dewasa di Apartemen, Bisa Raup Rp 5 Miliar Sebulan
04 May 2026, 08:30
Olahraga
MilkLife Soccer Challenge (MLSC) Bekasi Seri 2 2025 – 2026 Banjir Peserta, Kualitas Pemain Lebih Menonjol Dibanding Seri 1
03 May 2026, 19:13
Ipol.idIpol.id
Follow US

IPOL.ID telah diverifikasi oleh Dewan Pers
Sertifikat Nomor 1084/DP-Verifikasi/K/IV/2023
https://dewanpers.or.id/data/perusahaanpers

Copyright © IPOL.ID. All Rights Reserved.

  • Redaksi
  • Pedoman Pemberitaan Media Siber
  • Standar Perlindungan Profesi Wartawan IPOL.ID
  • Privacy Policy
  • Disclaimer
Logo Ipol.id Logo Ipol.id
Welcome Back!

Sign in to your account

Lost your password?