Kapitayan dan punden berundak, punya pengaruh kuat di Nusantara. Karena pengaruhnya, arsitektur candi di Indonesia dan India banyak berbeda.
Kapitayan juga populer di masa Majapahit. Makanya, candi-candi yang muncul di akhir Majapahit, apalagi yang berkaitan dengan ritual keagamaan (seperti Candi Sukuh yang bentuknya paling aneh) ternyata dibuat oleh penganut Kapitayan.
Bentuknya yang seperti piramid bukan berarti berhubungan dengan Mesir kuno atau Aztec. Itu hanya bentuk lebih modern dari punden berundak, yang akhirnya banyak ditemukan, mulai dari Sumatra sampai Papua.
Menariknya, kita sering salah pengertian. Masjid-masjid kuno (Masjid Agung Demak misalnya), atapnya berbentuk meru. Di berbagai narasi sejarah, katanya hal itu terpengaruh oleh agama Hindu. Padahal masjid-masjid tersebut dibangun untuk menarik para penganut Kapitayan agar tertarik pada Islam.
Punden berundak dan pengaruh ajaran Kapitayan banyak digunakan pada masjid-masjid kuno di Nusantara. Masjid Agung Demak (kiri) dan Masjid Tua Indrapuri di Aceh (kanan). Secara filosofis, atap bertingkat itu kemudian digubah menjadi tiga tingkatan seorang muslim dalam beragama: iman, islam, ihsan.
