Latar belakang Gaida dan Nur Laila mengambil ide tersebut yaitu dilansir dari Kementerian Pertanian (Kementan) 2022, berturut-turut produksi jagung di Indonesia meningkat dari 22,92 juta ton di tahun 2020 menjadi 23 juta ton di tahun 2021.
Namun, kata Nur Laila, dari teknologi disekitar jagung masih belum berkembang, karena sebagian besar masyarakat masih menggunakan cara tradisional. Mereka menggunakan alat untuk penanaman jagung masih semi manual. “Sehingga dinilai itu kurang efektif ya,” kata Nur Laila ditemui ipol.id, Jumat (28/10).
Kelemahannya disitu, lanjutnya, waktunya pun kurang efisisien dan juga melihat tenaga yang dibutuhkan, atau petani menyewa orang dengan upah yang kian lama kian tinggi. Biaya yang dikeluarkan semakin tinggi.
“Nah, di era teknologi 5.0 ini, pastinya membutuhkan suatu alat penanam jagung otomatis yang mestinya berguna untuk petani. Melihat Indonesia adalah negara Agraris yang memiliki banyak petani dan jagung menjadi komoditas utama,” ujarnya.
“Sehingga diciptakan alat Aucoplam ini, untuk mempermudah dan mempercepat proses kerja petani”.
