Nur Laila menjelaskan, pada spesifikasinya Aucoplam memiliki ukuran 35 centimeter (cm) x 30 cm x 19 cm dan robot ini memakai baterei 1500 mAH, sehingga bisa dijalankan otomatis. Jika ditotal biaya yang dikeluarkan untuk membuat satu unit robot menyentuh angka Rp2.269.000,-.
Sedangkan cara kerja alat tersebut, diutarakannya, pertama, memastikan baterai terisi daya penuh, kedua, masukkan biji jagung kedalam alat yang sudah tersedia, ketiga, menghidupkan Aucoplam dengan menekan tombol push button swicth.
Selanjutnya, keempat, memastikan remot bluetooth terhubung dengan Aucoplam. Terakhir, mengoperasikan remot kontrol dan mulai menjalankan alat.
Kelebihan dari alat tersebut, lanjut pelajar berkerudung itu, para petani dapat bekerja lebih efektif dan efisien. Karena para petani hanya perlu menjalankan alat itu dengan remot. Remot yang digunakan pun didesain sesederhana mungkin, sehingga para petani lebih mudah memahami cara pengoperasiannya.
“Cara pengisian daya pada baterei juga cukup mudah, dapat digunakan berulang-ulang, maksimal baterei bisa dipakai sampai 2 jam, kemudian baterei bisa dicharger kembali dan ini sudah diuji coba. Jadi robot ini dapat membuat lubang pada tanah, menaruh biji jagung kedalam lubang itu dan menutup tanahnya kembali dengan rata,” terangnya.
