Terlebih, waktu bersamaan muncul selentingan bahwa masyarakat Betawi marah, bahkan katanya ada yang sudah menyusun agenda untuk menggeruduk Balai Kota.
Namun sesaat kemudian, suasana kembali sejuk setelah mendapat informasi bahwa pengurus Bamus Betawi dan pengurus Bamus Betawi 1982 datang untuk silaturahmi (audiensi).
Bahkan, kedua kubu itu menyatakan berdamai dihadapan Pj Gubernur DKI serta akan segera menyiapkan agenda deklarasi nama baru atas bersatunya lagi Bamus Betawi.
Dering WhatsApp pun bersahutan berbagai kalangan menyampaikan ungkapan syukur dan takjub atas merekatnya kembali organisasi induk terbesar masyarakat Betawi ini.
Tidak hanya itu, pujian pun berdatangan untuk Heru Budi Hartono yang dianggap bisa menengahi dan meyelesaikan konflik organisasi adat warga asli Jakarta yang terjadi selama ini. Betul sekali, selalu ada hikmah dibalik setiap peristiwa dan dengan bersatunya organisasi ini, Jakarta akan menjadi kota yang harmonis.
Meski demikian, tower informasi yang menyampaikan suara penolakan masih sayup-sayup terdengar. Kini bergeser, dari semula penolakan masyarakat Betawi, menjadi soal batasan kewenangan.

