Kondisi itu, jelasnya, melatarbelakangi pembaruan kontrak atau renewal treaty di industri reasuransi pada awal 2023. Bila tak ada perubahan pada indikator ekonomi makro, Surbhi mengatakan kondisi hardening market bisa berlanjut pada tahun ini.
“Jika indikator makro tidak berubah secara signifikan, diperkirakan market hardening akan terus berlanjut,” ujarnya di sela-sela kegiatan bertajuk “Indonesia Re 2023 Treaty Renewal: Post Mortem & What’s Next” yang dihelat PT Reasuransi Indonesia Utama (Persero) atau Indonesia Re, belum lama ini.
Untuk menghadapi tantangan tersebut, Surbhi mengatakan pelaku industri reasuransi dan asuransi perlu melakukan penyesuaian. Penyesuaian itu harus dilakukan terkait dengan harga atau pricing sekaligus mencari celah pasar baru yang potensial bagi bisnis asuransi dan reasuransi.
“Penyesuaian harus dilakukan pada penetapan harga pasar primer, dan langkah-langkah diambil untuk meningkatkan portofolio,” ungkapnya.
Dalam kesempatan yang sama, Senior Client Manager, Team Lead for P&C Client Markets Indonesia and India Sub Swiss Re, Aisyah Fuad, mengakui ketidakpastian ekonomi dan lanskap risiko yang berubah menciptakan tantangan bagi pasar.

