Di samping itu, Aisyah menilai pelaku industri asuransi dan reasuransi perlu bekerja sama untuk mengakumulasikan data untuk memitigasi risiko di industri.
“Kerja sama industri untuk pengumpulan dan pencatatan data dengan praktik terbaik, mempraktikkan informasi lokasi risiko yang tepat, dan meta data risiko lainnya yang menyoroti kerentanan risiko,” tegasnya.
Di sisi lain, dia mengakui bahwa di tengah kondisi ini masih ada peluang untuk asuransi dan reasuransi. Potensi itu hadir dalam program transisi energi yang terus dipacu secara global.
“Transisi Energi dan peningkatan konektivitas digital untuk menjangkau lebih banyak pelanggan,” ungkap Aisyah.
Sementara itu, Direktur Teknik Operasi Indonesia Re Delil Khairat mengakui hardening market memang menjadi tantangan bagi industri asuransi dan reasuransi global, termasuk Indonesia, dalam beberapa tahun terakhir.
Namun, Delil menegaskan hardening market merupakan mekanisme industri asuransi dan reasuransi untuk mengoreksi kondisi sehingga menghasilkan pasar yang lebih baik atau menuju kondisi soft market. Hard market dan soft market menjadi siklus dalam industri asuransi dan reasuransi.

