“Waktu, pikiran dan tenaga harus kita fokuskan pada upaya pengembangan menjadi agen pegadaian. Apalagi, saya melakukan semua ini tanpa modal pengetahuan yang mumpuni,” katanya.
Dengan modal yang serba pas-pasan itu, kegigihan dan keuletan tentunya menjadi modal utama. “Yang sangat sulit ketika awal-awal saya menjadi agen pegadaian itu, pada 2021 lalu. Membangun kepercayaan masyarakat pada diri kita. Tentunya, kejujuran dan niatan kita dalam membantu sesama keluar dari masalah menjadi modal utama. Karena motto pegadaian, mengatasi masalah tanpa masalah bagi masyarakat,” jelasnya.
Sementara, agen pegadaian Euis yang fokus di wilayah Subang pun tak luput dari sejumlah persoalan yang dihadapi ketika awal meniti karier menjadi agen pegadaian. Dengan latar belakang pindahan dari Bandung dan menetap di Subang. Euis pun berjuang keras dalam meraih kesuksesan. “Di Subang itu ada pabrik sepatu merk ternama, pegawainya mencapai 35 ribu karyawan. Banyak karyawannya yang perempuan menjadi tulang punggung keluarga. Akhirnya banyak mereka yang terjebak oleh bunga yang mencekik leher dengan bank Emok. Mereka curhat dan saya berupaya menjadi solusi. Alhamdulillah, saat ini pun banyak yang bisa kembali stabil perekonomian keluarga nya karena banyak yang menjadi customer pegadaian,” katanya.

