“Kalau malam input panas dari matahari sudah tidak ada, yang ada pendinginan. Jika tidak ada awan (saat malam), panas dari bumi lepas ke luar angkasa. Tapi kalau ada awan, panasnya dibalikkan lagi oleh awan sehingga permukaan bumi mendinginnya lambat,” ujarnya belum lama ini.
Beliau menjelaskan, saat musim kemarau puncak panasnya paling tinggi karena terik matahari, namun puncak dinginnya pun paling rendah. “Hal itu karena jarak antara temperatur maksimum dan minimum harian itu cukup besar dibandingkan musim hujan karena musim hujan relatif banyak awan,” ujarnya dikutip itb.ac.id.
Angin
Keberadaan angin memengaruhi proses pendinginan suhu di permukaan bumi saat kemarau. Beliau menjelaskan, selain faktor awan, suhu menjadi lebih dingin ketika angin tenang dibandingkan saat ada angin berembus.
“Kalau cuaca dingin, tidak ada angin atau anginnya tenang, itu menyebabkan pendinginannya lebih efektif,” katanya. Hal itu karena angin berfungsi untuk “mengaduk” udara malam hingga pagi. Saat malam, udara di bagian atas lebih hangat daripada bagian bawah. Dengan begitu, saat ada angin, angin tersebut akan “mengaduk” udara yang hangat ke bawah, yang dingin ke atas.
