“Karena aktifitas kuliah yang cukup padat dibarengi dengan keorganisasian yang saya ikuti, suatu hari kondisi saya drop banget hingga harus konsultasi ke klinik kampus. Singkat cerita setelah menjalani pemeriksaan dari dan konfirmasi riwayat kesehatan, dokter mengindikasikan kalau saya mungkin terkena penyakit hepatitis melihat gejala yang timbul, tapi karena keterbatasan alat di fasilitas kesehatan tingkat pertama, saya langsung dirujuk ke rumah sakit untuk menjalani perawatan intensif,” jelas Mumu.
Berbekal kepesertaan JKN kelas rawat satu yang didaftarkan bersama orang tuanya, Mumu mengunjungi Rumah Sakit Bunda Margonda sesuai rujukan awal dan mendapatkan penanganan yang layak, namun ternyata ia kembali direkomendasikan untuk menjalani pemeriksaan lebih lengkap ke Rumah Sakit Dr Cipto Mangunkusumo. Disana Mumu menjelaskan bahwa ia melalui serangkaian tes yang lebih komprehensif untuk mengetahui penyebab dan pengobatan yang sesuai dengan penyakitnya.
“Meskipun harus dua kali pindah rumah sakit, saya gak keberatan karena memang alasan alasannya terkait ketersediaan peralatan medis, setelah lanjut ke Rumah Sakit Dr Cipto Mangunkusumo, saya langsung mendapat pengecekan darah lengkap, pemeriksaan fungsi hati, fibroscan dan lain-lain. Alhasil diagnosa yang ditegakkan kepada saya adalah Hepatitis B, sehingga dengan kondisi itu, saya harus dirawat untuk menyembuhkan penyakitnya dan menjaga kondisi saya agar tidak semakin memburuk,” Tambahnya.
