Di tengah berbagai situasi geopolitik di Indo-Pasifik yang kompleks tersebut, ia memandang Indonesia perlu mempertimbangkan sejumlah hal dalam upaya menavigasi kebijakan luar negerinya.
“Ada dua konsideran yang harus dipikirkan. Pertama adalah kepentingan nasional yang terkait dengan pertumbuhan ekonomi, penguatan sistem pertahanan, dan keterlibatan aktif di ranah global. Kedua, prinsip dan pendekatan, yaitu komitmen pada prinsip – khususnya terkait dengan non-blok dan bebas aktif, juga gaya kepemimpinan,” ujar Athiqah.
Ia melihat, poin gaya kepemimpinan itulah yang menjadi poin pembeda dengan Presiden Jokowi. Memang, untuk saat ini Presiden Prabowo masih sama dalam konteks pragmatis, fokus pada ekonomi. Lalu diplomasi ekonomi yang sama dengan agenda Presiden Jokowi.
Perbedaannya, Presiden Prabowo lebih terlibat (hands-on) dalam urusan luar negeri. Hal itu menjadikan Presiden Prabowo sebagai aktor utama yang berperan dalam politik luar negeri.
“Sehingga, kita dapat melihat bahwa pendekatan Presiden Prabowo nampaknya lebih personalistik langsung kepada pemimpinnya dan hubungannya bersifat bilateral dengan berbagai kepala negara. Gaya kepemimpinan yang sifatnya personalistik ini, pasti ada sejumlah risiko yang mungkin muncul,” terangnya.
