Warganet Indonesia menurut Mu’ti seakan begitu ringan dan tak ada beban ketika memberikan hujatan dengan kata-kata hinaan di dunia digital. Hujatan tersebut sering bersembunyi dibalik istilah ‘kritik’, padahal yang disampaikan tidak berdasar ilmu dan nalar yang sehat.
“Repotnya kadang-kadang, banyak orang termasuk sebagian pejabat mengambil kebijakan berdasarkan apa kata netizen. Padahal kata netizen itu belum tentu mencerminkan kecerdasan dia, pemahaman dia terhadap suatu persoalan,” katanya.
Fenomena tersebut kemudian melahirkan masalah baru yang menjadi penyakit warganet yaitu the problem of popularity. Pertarungan baik atau buruknya kebijakan berpijak pada popularitas yang kemudian dibantu para pendengung atau buzzer.
“Ini masalah kita yang sangat serius. Digital civility index kita itu bisa jadi merefleksikan keadaban rill masyarakat kita saat ini,” ungkapnya.
Fenomena keempat yang perlu mendapat perhatian adalah matinya rasa malu. Publik terlebih warganet tidak memiliki rasa malu ketika berbuat salah, bahkan tidak malu jika berbuat dosa.
