Mengutip peribahasa Jawa “sing salah seleh”, Mu’ti menyebut bahkan ungkapan ini sudah tidak berlaku. Padahal dalam ajaran Islam juga disebutkan, bahwa malu itu sebagian dari ciri orang-orang beriman.
“Jadi kalau orang sudah tidak ada lagi rasa malu berbuat salah, tidak ada lagi rasa malu berbuat dosa, itulah kehancuran dari keadaban tersebut,” ungkapnya.
Oleh karena itu Mu’ti mendorong peran Nasyiatul Aisyiyah untuk membangun keadaban dan peradaban. Membangun keadaban bisa dilakukan dengan basis ibadah, dan membangun peradaban berbasis pada ilmu. (ahmad)
