Pertumbuhan jumlah sekolah swasta berbasis agama juga menunjukkan tren yang konsisten. Data Kemenag RI menunjukkan bahwa dari tahun ke tahun, jumlah madrasah dan sekolah keagamaan swasta meningkat lebih cepat daripada sekolah negeri. Bahkan di daerah perkotaan yang memiliki akses luas ke sekolah negeri, sekolah agama tetap memiliki daya tarik tinggi.
Bukan berarti sekolah negeri tidak memiliki potensi dalam membentuk karakter. Namun, dalam banyak kasus, dimensi ini tidak mendapat tempat memadai dalam desain pendidikan nasional. Pendidikan karakter sering diposisikan sebagai “muatan tambahan”, bukan inti. Kurikulum yang padat, evaluasi berbasis angka, dan tekanan administratif membuat guru-guru kesulitan menyentuh sisi pembentukan kepribadian peserta didik.
Lebih jauh, pendekatan negara yang netral terhadap agama sering kali dipahami secara kaku, sehingga pendidikan nilai justru menjadi area kosong. Tidak jarang ditemukan, tidak semua sekolah negeri menyediakan guru Pendidikan yang seagama dengan pesrta didik. Padahal, nilai-nilai universal seperti kejujuran, tanggung jawab, kerja sama, dan kasih sayang dapat diajarkan tanpa melanggar prinsip sekularisme negara.

