Paus Fransiskus dalam dokumen Educating to Fraternal Humanism (2017) menekankan bahwa, “tujuan pendidikan bukan hanya untuk membekali kaum muda dengan keterampilan, tetapi juga untuk membangun dunia yang lebih manusiawi, lebih adil, dan penuh kasih.” Pesan ini sejalan dengan keinginan masyarakat terhadap pendidikan yang menanamkan nilai spiritual.
Demikian pula Paulo Freire, tokoh pendidikan dari Brasil, menegaskan bahwa “pendidikan sejati adalah praksis: refleksi dan aksi atas dunia untuk mengubahnya.” Pendidikan berbasis nilai, termasuk nilai agama, memungkinkan peserta didik tidak hanya cerdas, tetapi juga bertanggung jawab dan berani mengambil sikap etis dalam hidup.
Momen Introspeksi
Tingginya minat terhadap sekolah berbasis agama seharusnya tidak dilihat sebagai ancaman terhadap sistem pendidikan nasional, melainkan sebagai kritik diam-diam dari masyarakat terhadap minimnya dimensi kemanusiaan dalam sekolah negeri. Negara perlu mendengar suara ini dengan lebih arif.
Ki Hadjar Dewantara telah lama mengingatkan bahwa pendidikan harus menumbuhkan budi pekerti (karakter), pikiran (intelek), dan jasmani anak secara utuh. Prinsip ini kini lebih konsisten dihidupi oleh sekolah berbasis agama, yang merawat nilai-nilai dan spiritualitas sebagai bagian tak terpisahkan dari proses pendidikan.

