Mengutip Martin Buber, filsuf religius Yahudi, ia menyatakan pendidikan bukanlah soal mentransfer informasi. Melainkan membentuk manusia dalam relasi yang tulus.
Dalam konteks ini, banyak sekolah berbasis agama justru menghadirkan relasi pendidik dan peserta didik yang lebih personal, spiritual, dan manusiawi.
Dalam pendekatan pedagogi Ignasian yang diterapkan di banyak sekolah Katolik, misalnya, pendidikan mencakup dimensi otak (kognitif), hati (afektif), dan tangan (aksi). Anak-anak diajak untuk berpikir kritis, merenung secara spiritual, dan bertindak secara etis. Inilah integrasi yang dirindukan banyak orang tua.
Preferensi Masyarakat
Preferensi ini bukan sekadar asumsi. Survei Lembaga Survei Indonesia (LSI) tahun 2022 menunjukkan bahwa 63,1 persen responden menyatakan lebih percaya sekolah berbasis agama dalam hal pembentukan karakter. Hal senada muncul dalam studi Puslitbang Pendidikan Agama dan Keagamaan Kementerian Agama (2021), yang menyebutkan bahwa mayoritas orang tua memilih madrasah atau sekolah Kristen/Katolik karena lingkungan yang religius, aman, dan disiplin.
