Studi di Inggris menunjukkan bahwa setelah kebijakan ini diterapkan, jumlah orang mengaku pernah ditawari rokok ilegal justru menurun. Di Australia, peredaran rokok ilegal tetap terkendali bahkan menurun beberapa pekan pasca kebijakan diimplementasikan.
Hal ini menunjukkan bahwa efektivitas kebijakan sangat ditentukan oleh sistem pelaksanaannya, bukan bentuk kemasannya.
Sebagai organisasi dipimpin orang muda, IYCTC menegaskan bahwa orang muda adalah kelompok paling rentan disasar industri rokok.
“Karena itu, penting bagi publik muda mendapatkan informasi yang jernih dan berbasis bukti, bukan narasi yang dibangun untuk kepentingan industri,” tegas Manik.
Lebih lanjut, kata Manik, IYCTC juga menanggapi konten video youtube berdurasi sekitar 10 menit yang baru-baru ini dirilis dari seorang tokoh publik muda dengan lebih dari 1,63 juta pengikut di kanal youtubenya, yang menyatakan kekhawatirannya terhadap kebijakan standardisasi kemasan berpotensi memperbesar peredaran rokok ilegal.
“Kami mengapresiasi komitmennya untuk tak lagi merokok di depan kamera, itu bentuk tanggung jawab yang patut dihargai, apalagi audiensnya banyak dari kalangan muda. Tapi kami merasa penting untuk meluruskan informasi yang bisa menimbulkan kesalahpahaman di masyarakat,” ujar Manik.
