Sementara, Program Manager IYCTC, Ni Made Shellasih juga menanggapi narasi lama soal ekonomi industri rokok sering dijadikan alasan untuk menolak regulasi.
Menurutnya, selama ini, isu soal lapangan kerja dan ekonomi di sektor tembakau selalu dibawa ke depan.
“Padahal kita perlu melihat lebih jernih, kontribusi ekonomi industri ini tidak sebanding dengan beban sosial dan biaya kesehatan harus ditanggung negara,” kata Shellasih.
Data BPJS menunjukkan bahwa beban pembiayaan pengobatan penyakit akibat rokok terus meningkat setiap tahun dan menjadi salah satu beban terbesar bagi sistem kesehatan nasional.
Riset CISDI (2021) menunjukkan bahwa konsumsi rokok pada 2019 membebani sistem kesehatan dengan biaya sebesar Rp 17,9 hingga 27,7 triliun, angka yang hampir menyamai 92% dari total defisit Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) pada tahun tersebut.
IYCTC mengajak agar publik, media, dan pembuat kebijakan tidak lagi terjebak pada narasi industri yang menyalahkan kebijakan, namun menutup mata terhadap akar masalah sebenarnya.
