Format pertandingan tetap mempertahankan standar DBL yang ketat: tidak hanya dari sisi teknis permainan, tapi juga akademis. Untuk bisa berlaga, setiap pemain harus memenuhi syarat akademik tertentu.
Nilai rapor untuk mata pelajaran Bahasa Indonesia, Bahasa Inggris, dan Matematika minimal harus 6, dan tidak boleh ada nilai di bawah 4. Siswa pindahan atau yang tidak naik kelas tidak diizinkan bermain. Semua itu untuk menjamin bahwa hanya siswa yang seimbang antara akademik dan atletik yang bisa tampil.
“Konsep student-athlete ini yang sejak awal jadi pembeda DBL dibanding kompetisi lain. Dulu dianggap aneh, sekarang justru jadi standar,” kata Azrul Ananda, pendiri DBL Indonesia.
Tema besar musim ini adalah “This Is Our Spirit”, yang mencerminkan semangat kebersamaan, perjuangan, dan kedisiplinan yang tumbuh dalam diri setiap peserta. Spirit ini tidak hanya ada di lapangan, tapi juga di tribun, ruang kelas, bahkan kehidupan setelah lulus SMA.
DBL Bali punya sejarah panjang dalam mencetak prestasi luar biasa. Sejak pertama kali digelar di Bali pada 2009, banyak nama besar lahir dari kompetisi ini. Bahkan saat itu, SMAN 1 Denpasar langsung menggebrak dengan mengawinkan gelar juara putra dan putri—sebuah pencapaian langka di sejarah DBL Indonesia.
